Layanan

Turnkey Project Irrigation (Proyek pemasangan intalasi irigasi)

Instalasi Drip Irigasi – Budidaya tanaman hidroponik umumnya dikenal dekat dengan konsep pertanian rumah-hijau (greenhouse farming), dan memang salah satu persyaratan utama dalam pengembangan konsep semacam itu tidak lepas dari kewajiban untuk memiliki greenhouse.Namun perlu diingat bahwa konsep greenhouse tidak melulu merujuk pada bangunan permanen. Pertanian rumah-hijau pun bahkan bisa dibangun di area bangunan semi-permanen. Yang penting adalah bangunan tersebut bisa melindungi tanaman hidroponik dari serangan penyakit maupun hama, sekaligus bisa melindungi tanaman dari siraman air hujan langsung. Meski terdengar sederhana secara konseptual, namun orang yang ingin mengembangkan sistem pertanian greenhouse mesti memahami beberapa karakteristik penting terkait dengan pertanian model tersebut.

Dalam sistem pertanian yang mengandalkan greenhouse, pemilik bangunan bisa membudidayakan banyak tanaman seperti tomat, cabe, kangkung, sawi, dan jenis-jenis tanaman lain yang kerap digunakan untuk memasak. Meski terdengar bisa diaplikasikan dengan mudah, model pertanian greenhouse tetap memerlukan sistem irigasi/pengairan yang sesuai dengan jenis tanaman yang ingin dibudidayakan.

 

Soil and land suitability survey and Mapping (Survei kelayakan lahan)

Secara umum tahapan kegiatan yang digunakan dalam menyusun peta kesesuaian lahan untuk komoditas perkebunan dapat dibagi menjadi 4 tahapan yaitu; persiapan, penelitian lapangan, pengolahan data dan pengusunan peta kesesuaian lahan. Adapun penjelasan dari tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

Tahap persiapan

Tahapan persiapan dilakukan dengan tujuan untuk persiapan sebelum melakukan survei di lapangan. Dalam tahapan persiapan juga harus dilakukan observasi lapangan sebagai studi awal untuk menentukan kelayakan lahan untuk perkebunan tebu. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam studi kelayakan ini antara lain, aspek penggunaan lahan (land-used), kelerengan (slope), serta tanah. Tahap persiapan juga harus mencakup rencana untuk tahapan survei dan penelitian di lapangan termasuk persiapan peta-peta rencana lokasi areal perkebunan.

Tahap Penelitian lapangan

Setelah tahap persiapan selesai maka dilanjutkan dengan survei atau melakukan penelitian langsung dilokasi yang direncanakan akan digunakan untuk areal perkebunan. Tahapan penelitian di lapangan dapat dibagi menjadi 3 bagian atau tahapan yaitu, pengamatan tanah, pengambilan contoh tanah, serta penyusunan peta satuan evaluasi lahan.

Pengamatan tanah dilakukan dengan bantuan peta yang telah dibuat pada tahapan persiapan, kemudian di interpretasi dengan melakukan survei dan pengamatan langsung di lapangan baik kondisi tanah maupun kondisi lingkungan lainnya. Pengamatan tanah dilapangan dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain metode grid dan metode transek, dalam hal ini kita akan menggunakan metode transek. Pada metode transek pengamatan tanah dilakukan dengan memperhatikan hubungan antara tanah dan landscape (King et al., 1983; Steers dan Hajek, 1978; White, 1966). Intensitas pengamatan ditentukan oleh heterogenitas terrain/landform, toposekuen, dan litosekuen. Pengamatan sifat morfologi tanah dilakukan melalui pemboran, minipit, dan pembuatan profil yang mengacu pada Soil Survey Manual (Soil Survey Division Staff, 1993) dan Guidelines for Soil Profile Description (FAO, 1990). Parameter sifat-sifat tanah yang diamati di lapangan antara lain, kedalaman tanah (sampai bahan induk atau lapisan kedap), tekstur, reaksi tanah/pH, keadaan batuan di permukaan dan di dalam penampang tanah. Sedangkan parameter fisik lingkungan yang perlu diamati antara lain, bentuklahan (landform), bahan induk, relief dan lereng, penggunaan lahan dan pengelolaannya. Hasil pengamatan lapangan kemudian disimpan dalam sebuah basis data Site and Horizon Description. Perubahan batas delineasi satuan lahan dan diskripsi karakteristik tanah dan lingkungan dilakukan di lapangan.

Pengambilan contoh tanah dilakukan melalui pengambilan profil tanah atau minipit yang dilakukan pada seluruh horison tanah untuk mendukung klasifikasi tanah. Contoh tanah diambil hingga kedalaman 120 cm untuk mengetahui sifat kesuburan tanah yang mewakili satu jenis tanah dalam satuan lahan. Apabila satuan lahan mempunyai penyebaran luas, contoh tanah diambil lebih dari satu titik dan distribusi contoh tanah harus merata seluruh areal penelitian. Contoh tanah dianalisis di laboratorium Puslitbangtanak, Bogor mengikuti metode yang tercantum dalam Soil Survey Investigation Report No.1 (Soil Survey Lab. Staff, 1991), dan Penuntun Analisa Tanah (Sudjadi et. al., 1971). Data hasil analisis tanah kemudian digunakan untuk rekelasifikasi, evaluasi tingkat kesuburan tanah, dan evaluasi lahan.

Penyusunan peta satuan evaluasi lahan dilakukan berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada saat pengambilan contoh tanah. Kemudian dilakukan overlay beberapa peta antara lain, peta bentuklahan (landform), peta lereng (slope), peta bahan induk batuan, peta penggunaan lahan (land-used), peta tanah (dalam hal ini kedalaman tanah, drainase, tekstur, dan pH). Dari hasil overlay dari peta-peta di atas akan dihasil peta satuan evaluasi lahan sementara yang digunakan untuk menentukan sampel yang mewakili pada tiap satuan lahan tersebut. Sampel yang telah dipilih tersebut kemudian diambil dan selanjutnya dianalisis di laboratorium.